Kamis, 06 April 2017

Pak Azis dan Kota Dunia




Beep. Beep.
 
Kita berangkat pukul 15.00.

Sebuah pesan muncul di layar handphone yang terletak hanya beberapa sentimeter dari bantal yang saya gunakan. Alunan ayat-ayat Al Quran terdengar begitu nyaring. Asrama tempat saya beristirahat memang berada tepat di samping mesjid. Saya kemudian memicingkan mata mencoba membaca pesan singkat tadi dengan seksama. Suasana kamar yang gelap membuat saya kebingungan menebak waktu. Saya melirik jam di tangan kiri, jarumnya menunjukkan pukul 15.15. Beberapa kalimat saya ketikkan di layar smartphone, membalas pesan tadi. 

***

Hujan sedang mengguyur Kota Makassar dengan lebatnya di Sabtu sore itu. Saya beserta dua orang teman menembus padatnya Jl. A.P. Pettarani di tengah terpaan hujan dan percikan genangan. Klakson kendaraan beradu tepat di area lampu merah Fly Over, warga kota tampak  sedang terburu-buru. Sebagian mungkin sedang marah dengan hujan yang datang mendadak di sore menuju malam minggu ini. Kami menyusuri jalan kecil di sebelah kanan Jalan Tol Reformasi menuju area Pampang, salah satu kelurahan yang sering disebut-sebut sebagai daerah “rawan” kriminalitas. Seorang teman bernama Fadli telah menunggu di ujung sebuah gang. Ia menuntun kami melewati gang-gang kecil.

Saya, Fadli, Ansyah, dan Apid akan mengunjungi sebuah keluarga yang menjadi target proyek berbagi bulan ini. Ansyah dan Apid memiliki sebuah usaha yang bergerak di bidang video dan fotografi. Mereka memiliki komitmen untuk rutin melakukan proyek sosial sebagai corporate social responsibility mereka. Sebagai proyek pertama, mereka ingin membantu Pak Azis melalui video dokumenter untuk penggalangan donasi. Saya diajak bergabung untuk membantu membuat story board videonya. Kunjungan kali ini adalah riset awal kami sebelum membuat video tentang sosok Pak Azis.


Kami akhirnya tiba di sebuah rumah kost. Kami melangkahkan kaki masuk ke sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter dengan dinding berwarna putih yang agak kusam. Tepat di samping pintu masuk terdapat tangga kayu. Di sebelahnya terdapat meja kayu, tempat beberapa perabot makan dan sebuah kompor gas. Lantai ruangan itu basah karena air hujan yang masuk dari pintu. Seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun duduk bersila di sudut ruangan, Pak Azis namanya. Beliau tersenyum setelah menjawab salam kami. Di sebelahnya ada Bu Muli, sang istri. Pak Azis dan Bu Muli adalah sepasang suami istri tunatera. Bersama dua orang anak laki-lakinya, Alwi dan Abil, mereka telah lama menelusuri jalan-jalan Kota Makassar berpindah dari satu tempat kost ke tempat kost lainnya. Keluarga kecil ini baru saja pindah ke tempat ini sejak Oktober 2015 lalu. 

“Beruntung karena pemilik kost yang sekarang lebih pengertian, dek. Kadang kami terlambat membayar sewa, beliau bisa memaklumi,” tutur Pak Azis diikuti senyum khasnya.

Pak Azis berasal dari Kota Palu dan Bu Muli dari Kab. Bone. Mereka bertemu saat sama-sama mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Untuk kebutuhan sehari-hari Pak Azis dan Bu Muli berjualan jagung dan keripik pisang. Pak Azis biasanya berjualan di sekitar Jl. Veteran, Jl. Latimojong, Pasar Sentral hingga ke dareah Mandai, Kab. Maros. Pak Azis memilih berjualan karena merasa tidak memiliki keterampilan. Semasa di bangku SLB dulu, beliau tidak dibekali keterampilan yang cukup untuk mereka gunakan bertahan hidup. Pak Azis pun merasa tidak ada ruang yang bisa menerimanya sebagai seorang tunanetra. Padahal beliau pernah beberapa kali mewakili Kota Makassar dalam ajang MTQ, bahkan pernah sekali memperoleh juara. Suara dan lantunan ayat suci Al Quran dari Pak Azis pun berhasil membuat saya merinding saat kami meminta beliau memberikan contoh bagaimana ia mengajarkan tajwid. 

“Kenapa nda jadi imam masjid ki, Pak? Mu’azin atau jadi guru mengaji?” 

“Aih, biasa ji mau ki maju jadi imam tapi kadang orang-orang nda na percaya orang buta,” kenang Pak Azis.

Beliau bercerita bagaimana ia pernah suatu waktu melangkah masuk ke sebuah masjid dan seseorang dengan sebuah pertanyaan yang tidak mengenakkan datang menghampirinya.

 “Mau ki apa di sini, Pak?” kenang Pak Azis mengulangi pertanyaan orang tersebut.

Pak Azis tertawa kecil, “Orang buta ke masjid saja dicurigai, bagaimana dengan tempat lain.”

Kami terdiam sementara Pak Azis kembali tersenyum.

Alwi duduk di pangkuanku. Sejak awal kedatangan kami, bocah berusia 6 tahun ini tersenyum-senyum kegirangan. Ia begitu aktif berlarian di sekeliling ruangan. Saya menanyainya banyak hal dan ia pun menjawab dengan tanpa ragu-ragu dan malu seolah kami telah lama akrab. Ia terlihat sangat periang dan percaya diri. Ia tak henti-hentinya tersenyum tapi wajah dan pandangannya terlihat agak aneh. Kadang, ia bercerita menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya tapi pandangannya ke arah lain. Rupanya, penglihatan Alwi pun mengalami gangguan. Ia mengidap katarak di mata kirinya sejak berusia 4 tahun. Setahun belakangan ini mata kanannya pun mulai tidak dapat berfungsi dengan baik. Katarak kini terdapat di kedua bola matanya. Padahal, tahun depan Alwi sudah saatnya masuk ke sekolah dasar. Bu Muli berharap agar mata Alwi dapat dioperasi tahun ini agar anak sulungnya itu dapat bersekolah di sekolah umum bukan SLB. Namun, keadaan ekonomi keluarga Pak Azis tidak memungkinkan untuk segera melakukan operasi untuk Alwi. Hasil berjualan jagung dan keripik hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sewa kost. Bahkan jika sedang sepi pembeli, Pak Azis sekeluarga terpaksa mengkonsumsi mie instan.

Kehidupan di jalanan kota telah dirasakan Pak Azis selama kurang lebih 20 tahun. Jalan kota seperti Makassar bagi seorang tunanetra seperti Pak Azis tak pernah ramah. Untuk berjalan kaki menggunakan trotoar yang ramah tunanetra pun masih jauh dari harapan. Sebagian besar ruas jalan belum tersedia trotoar untuk pejalan kaki. Kalaupun ada hanya pada ruas jalan poros seperti Jl. A.P. Pettarani, Jl. Urip Sumiharjo, Jl. Perintis Kemerdekaan. Trotoar itu pun belum ramah tunanetra bahkan seringkali menjadi tempat para pedagang kaki lima bertengger. Di jalan-jalan yang merupakan titik padat kendaraan seperti terminal, kampus, sekolah, serta pasar masih kurang ruang untuk pejalan kaki. Untuk orang normal saja harus beradu dengan berbagai kendaraan bermotor apalagi bagi seorang tunanetra atau penyandang disabilitas lainnya. Belum lagi persoalan menyebrang jalan. Pak Azis mengaku sangat kesulitan untuk menyebrang jalan. Ia kebingungan jika hendak menyebrang di perempatan jalan. Ia pun hanya bisa mengandalkan indera pendengarannya untuk mengetahui pergantian lampu lalulintas dari merah ke hiajau atau sebaliknya. 

Kerasnya jalanan kota bagi seorang tunanetara tidak hanya terletak pada infrastruktur dan lalu lintas. Pak Azis pun kerap ditipu oleh pembelinya karena tidak dapat mengenali uang. Beliau hanya mengandalkan kejujuran pembelinya. Pernah di suatu siang, seseorang membeli keripik pisang seharga Rp 5.000 kemudian menyerahkan selembar uang kertas Rp 2.000 namun diakui sebagai uang Rp 50.000. Bisa dibayangkan kerugian Pak Azis. Benarlah, seorang tunanetra yang memutuskan untuk berjualan akan sangat besar potensinya untuk tertipu karena tidak mampu mengenali nominal uang. Namun, Pak Azis tidak pernah patah semangat untuk memasrahkan hidupnya pada belas kasih orang-orang dengan meminta-minta. Bagi beliau, meminta-minta adalah tindakan putus asa. Ia optimis dengan berjualan ia tetap bisa menghidupi keluarganya. Mungkin hari itu ia tertipu tapi ia percaya di luar sana masih banyak orang yang jujur.

Makassar dengan ambisinya sebagai Kota Dunia pada kenyataannya masih memiliki pekerjaan rumah yang banyak. Predikat Kota Dunia tidak hanya tentang bangunan fisik atau penggunaan teknologi yang canggih tetapi juga tentang kondisi sosial masyarakat sebagai warga kota dunia. Terlebih dengan diluncurkannya Makassar Smart City, sudah seharusnya pemerintah tidak hanya berkutat membentuk hutan beton dimana-mana tetapi juga bagaimana membuat warga kota menjadi “smart”yang memiliki kualitas hidup tinggi. Seperti yang diungkapkan Caraglin et al (2009) “we believe a city to be smart when investments in human and social capital, and transport and ICT communications infrastructure fuel sustainable economic growth and a high quality of life, with a wise management of natural resources, through participatory governance”. Sebuah kota dapat dikatakan Smart City ketika investasi difokuskan pada manusia dan modal sosial, energi, infrastruktur, transportasi, ICT komunikasi, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta kualitas hidup yang tinggi, dengan manajemen sumber daya alam yang bijaksana, melalui tata pemerintahan yang partisipatif. Pemerintah sudah seharusnya terlibat dalam segala bentuk pembangunan fisik dan non-fisik.


Jika jalanan kota bagi orang normal saja tidaklah ramah, bagaimana dengan Pak Azis dan para tunanetra lainnya?





0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu di sini :)